Skip to main content

Promosi Operator Telepon

Saat ini sering kita temui maraknya perusahaan telepon melakukan promosi gratis nelpon dan sms. Misalnya dengan mengisi ulang Rp. 10.000,- saja, maka pelanggan sudah dapat menikmati langsung gratis nelpon nasional ke sepuluh juta lebih pengguna, local maupun interlokal di seluruh Indonesia seharian selama 24 jam. Jika pelanggan mengisi ulang sebesar Rp. 25.000,- maka pelanggan tersebut dapat menikmati gratis nelpon nasional selama tiga puluh hari non stop.

Selain gratis nelpon, pelanggan juga bisa menggunakan saldo talktime-nya untuk menikmati layanan-layanan nilai tambah (value added service) dan fitur-fitur yang penuh inovasi dan sesuai kebutuhan pelanggan, seperti; black list (memblokir out going call dan sma ke nomor tertentu), white list (membatasi out going call dan sms ke nomor tertentu), dan sms non stop, juga nada sambung (RBT), dll.

Namun sudah maklum, tarif promosi yang menggiurkan semacam itu akan mengalami perubahan sendiri tanpa kehendak si pengguna, dan hal itu merupakan kebijakan dari pihak operator. Tak hanya sampai di situ, terkadang juga pulsa pelanggan hilang tanpa sebab dll. Ketika dikonfirmasi ke pihak operator, maka mereka bukannya mengganti pulsa yang telah lenyap, akan tetapi hanya memberikan solusi agar tidak terjadi seperti hal itu lagi, seperti memerintahkan untuk tidak di isi selama dua hari, dst.

Pertanyaan

  1. Bagaimana tanggapan fikih tentang layanan gratis, nilai tambah (value added service) dan fitur-fitur yang penuh inovasi seperti black list, white list dan lainnya yang semuanya itu dapat diperoleh dengan melakukan pengisian pulsa.
  2. Bagaimana hukum mengaktifkan black list (memblokir incoming call dan sms dari nomor tertentu) dan white list (membatasi out going call dan sms ke nomor tertentu)?

Jawaban

  1. Apabila hal-hal tersebut tidak disepakati dalam akad, maka hal ini diperbolehkan karena merupakan janji memberi hadiah atau sedekah dari pihak operator kepada konsumen, dan pihak operator wajib menepatinya (menurut sebagian ulama, dan tidak wajib menurut sebagian yang lain). Hanya saja bila hal itu merupakan pengelabuan atau jebakan kepada pelanggan (dari operator sudah punya niat dari awal tidak akan menepati), maka hukumnya haram. Bila berbagai promosi tersebut disepakati sdalam akad, maka hukumnya boleh dan pihak operator harus menepati.
  2. Tidak boleh bila tujuan dan sasarannya melanggar aturan syarak, seperti hal tersebut dilakukan terhadap saudara muslim untuk memutuskan hubungan silaturrahim, memuus komunikasi (hajru) melebihi tiga hari tanpa ada uzur, mempermainkan, dll.

Rujukan

Referensi: Santri Salaf Menjawab | Pustaka Sidogiri

Catatan: Perbedaan pendapat di kalangan ulama suatu kewajaran dalam kajian fikih, harap maklum.